Puisi- Sembahyang Rumputan merupakan sajak yang ditulis oleh Ahmadun Yosi Herfanda. Ahmadun lahir di Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, pada 17 Januari 1958 silam. Celia Siura Bercerita 100 - Bahaya Microplastik bagi Manusia. Ia dikenal sebagai jurnalis dan sastrawan tanah air yang banyak menulis sajak-sajak sosial-religius.Ahmadun Yosi Herfanda kadang ditulis Ahmadun Y. Herfanda atau Ahmadun YH adalah seorang penulis puisi, cerpen, esai, sekaligus berprofesi sebagai jurnalis dan editor berkebangsaan Indonesia yang lahir pada tanggal 17 Januari 1958 di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah, Yosi Herfanda adalah seorang sastrawan Indonesia yang telah memberikan kontribusi yang berharga dalam dunia sastra Indonesia. Karya-karyanya mencerminkan eksplorasi yang mendalam terhadap narasi dan identitas budaya mengawali perjalanan kreatifnya dengan menulis puisi dan cerpen. Karya-karyanya menggambarkan kehidupan sehari-hari dengan sentuhan personal yang kuat, memperhatikan detail-detail kecil yang memberikan kehidupan pada narasi yang Ahmadun Yosi Herfanda ditandai oleh eksplorasi narasi yang mendalam. Ia mampu menghadirkan dunia cerita yang beragam, dari cerita sejarah hingga realitas sosial. Dalam proses menulisnya, ia sering memadukan unsur-unsur fiksi dan nonfiksi, menciptakan lapisan-lapisan naratif yang kompleks dan mendalam. Narasi yang dihasilkan oleh Ahmadun Yosi Herfanda memperlihatkan kepekaan terhadap detail, konflik, dan karakter yang satu tema yang sering dieksplorasi oleh Ahmadun Yosi Herfanda adalah identitas budaya Indonesia. Karya-karyanya memperlihatkan kepedulian terhadap keberagaman budaya Indonesia, dengan menggambarkan kehidupan dan pengalaman masyarakat dari berbagai latar belakang etnis dan budaya. Ia mengajak pembaca untuk merenungkan tentang kekayaan budaya dan pentingnya menjaga dan menghargai identitas budaya di tengah tantangan zaman Yosi Herfanda memiliki gaya penulisan yang unik, dengan bahasa yang lugas dan memikat. Ia menggunakan bahasa yang sederhana namun sarat dengan makna, sehingga karya-karyanya mudah diakses oleh berbagai kalangan pembaca. Pengaruh sastra klasik Indonesia dan internasional juga terlihat dalam karya-karyanya, menciptakan perpaduan yang menarik antara tradisi dan pernah dimuat di berbagai media massa, semisal Horison, Kompas, Media Indonesia, Republika, Bahana, dan Ulumul Qur' kumpulan puisi, 1980;Ladang Hijau kumpulan puisi, 1980;Penyair Yogya Tiga Generasi antologi puisi, 1981;Sang Matahari antologi puisi, bersama Ragil Suwarna Pragolapati, 1984;Prasasti antologi puisi, 1984;Meniti Jejak Matahari antologi puisi, 1984;Tanah Persinggahan antologi puisi, 1985;Syair Istirah antologi puisi, bersama Emha Ainun Nadjib dan Suminto A. Sayuti, 1986;Tugu Antologi Puisi 32 Penyair Yogya antologi puisi, 1986;Tonggak 4 Antologi Puisi Indonesia Modern antologi puisi, 1987;Paradoks Kilas Balik antologi cerpen, 1989;Sajak Penari kumpulan puisi, 1990;Pustaka Hidayah kumpulan artikel, 1992;Pergelaran antologi cerpen, 1993;Dari Negeri Poci 2 antologi puisi, 1994;Teror Subuh di Kanigoro sejarah, 1995;Sembahyang Rumputan kumpulan puisi, 1996;Trotoar antologi puisi, 1996;Sebelum Tertawa Dilarang kumpulan cerpen, 1997;Fragmen-Fragmen Kekalahan 20 puisi pilihan kumpulan sajak, 1997;Kolusi kumpulan cerpen, 2002;Leksikon Sastra Jakarta Sastrawan Jakarta dan Sekitarnya 2003;Sastra Kota Bunga Rampai Esai Temu Sastra Jakarta 2003;Kota yang Bernama dan Tak Ternama Antologi Cerpen Temu Sastra Jakarta 2003;Bisikan Kata, Teriakan Kota Antologi Puisi Temu Sastra Jakarta 2003;Demokrasi Madinah Model Demokrasi Cara Rasulullah 2003;Ciuman Pertama untuk Tuhan kumpulan puisi, 2004;Sebutir Kepala dan Seekor Kucing kumpulan cerpen, 2004;Badai Laut Biru kumpulan cerpen, 2004;The Worshipping Grass kumpulan puisi dwi bahasa, 2005;Dokumen Jibril Kumpulan Cerpen Republika 2005;Resonansi Indonesia antologi puisi sosial, 2006;Koridor yang Terbelah kumpulan esai sastra, 2006;Jogja Lima Koma Sembilan Skala Richter antologi puisi, 2006;Anthology Empati Yogya Sebuah Kumpulan Puisi 2006;Nyanyian Cinta Antologi Cerpen Santri Pilihan 2006;Tarian dari Langit antologi cerpen, 2007;Inspiring Stories 30 Kisah Para Tokoh Beken yang Menggugah 2008;Yang Muda yang Membaca esai panjang, 2009;Sajadah Kata kumpulan puisi, 2013;99 Cara Mudah Menjadi Penulis Kreatif 2016;Matahari Cinta Samudera Kata antologi puisi, 2016;Bunga Rampai PMK Bergerak dengan Nurani antologi puisi menolak korupsi, 2017;Demokrasi di Era Digital 2021;Ahmadun Yosi Herfanda merupakan sastrawan yang menggambarkan eksplorasi narasi dan identitas budaya Indonesia melalui karya-karyanya yang kaya dan bermakna. Ia memperlihatkan kepekaan terhadap kehidupan sehari-hari dan nilai-nilai budaya, serta mampu menghadirkan narasi yang mendalam dan Ahmadun Yosi Herfanda memberikan kontribusi yang berharga bagi perkembangan sastra Indonesia, mengajak pembaca untuk merenungkan dan menghargai keberagaman budaya serta memperkuat kesadaran akan identitas budaya bahan telaah, berikut kami sudah merangkum beberapa contoh puisi karya Ahmadun Yosi Herfanda untuk anda baca. Semoga bisa menjadi inspirasi dan bahan bacaan yang menyenangkan untuk melampiaskan rasa. Kumpulan Puisi karya Ahmadun Yosi Herfanda Puisi"Sembahyang Rumputan" Karya: Ahmadun Yosi Herfanda. PUISI "SEMBAHYANG RUMPUTAN" KARYA: AHMADUN YOSI HERFANDA: SEMBAHYANG RUMPUTAN. Karya: Ahmadun Yosi Herfanda. walau kaubungkam bunyi azan. walau kaugusur rumah-rumah tuhan. aku rumputan takkan berhenti sembahyang:inna shalaati wa nusuki.
Ahmadun Yosi Herfanda – jakarta di kota peradaban orang-orang mencari tuhan di bar-bar dan bursa-bursa perempuan, bank-bank dan perkantoran. politikus pun mengaum di mana tuhan di mana? birokrat menjawab sambil menguap di sini tuhan di sini. ketika orang-orang berdatangan yang teronggok cuma berhala kekuasaan meninggalkan tuhan dalam dirinya, orang-orang makin sibuk mencari tuhan, memanggil-manggil tuhan, di mana kau tuhan? di sini tuhan di sini jawab suara di hotel-hotel dan kelab malam. ketika orang-orang berdatangan, yang terhampar cuma kelamin-kelamin rindu bersebadan di kota peradaban orang-orang mencari tuhan hilir-mudik di jalan-jalan, berebut keluar masuk diskotik dan pasar-pasar swalayan orang-orang lupa, tuhan dalam hati sendiri tak pernah pergi 1992Alfredlancar berbahasa dan menulis dalam bahasa Swedia, Rusia, Prancis, Inggris, dan Jerman. Alfred sangat tertarik di bidang bahasa, kimia, dan fisika. Ayahnya menginginkannya mengikuti jejaknya dan tak menghargai bakat Alfred dalam puisi. Ia memutuskan mengirim putranya ke luar negeri untuk belajar dan menjadi insinyur kimia. AbstractAbstrakPenelitian memiliki tujuan untuk mengungkapkan makna dari puisi Ahmadun Yosi Herfanda yang berjudul Rahasia Cinta dan Resonansi Indonesia. Peneliti menggunakan Semiotika Pierce untuk mengkaji kedua puisi tersebut. Dalam kajian Semiotika Pierce fokus dalam kajiannya meliputi ikon, indeks, dan simbol. Pemilihan puisi Rahasia Cinta dan Resonansi Indonesia untuk dikaji dalam penelitian ini karena dari puisi Rahasia Cinta dan Resonansi Indonesia menggunakan pemilihan majas dan makna kiasan yang menarik dan menggunakan pilihan majas yang penuh dengan arti, sehingga kedua puisi tersebut sangat cocok untuk dikaji menggunakan kajian Semiotika Pierce. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, didapatkan tiga unsur Semiotika Pierce dalam kedua puisi tersebut. Ketiga unsur tersebut ialah ikon, indeks, dan simbol. Unsur Semiotika Pierce Pada puisi Rahasia Cinta yang paling dominan ialah ikon sedangkan indeks dan simbol terdapat satu. Dalam puisi Resonansi sama-sama menemukan dua analisis dalam ikon, indeks, dan kunci semiotika pierce, puisi, rahasia cinta, resonansi Indonesia AbstractThe aim of this research is to reveal the meaning of Ahmadun Yosi Herfanda's poem, entitled Secrets of Indonesian Love and Resonance. The researcher uses Pierce's Semiotics to study the two poems. In the study of Semiotics, Pierce's focus in his study includes icons, indexes, and symbols. The selection of the Indonesian Secret of Love and Resonance poetry to be studied in this study is because the Indonesian Secret of Love and Resonance poetry uses an interesting selection of figurative language and figurative meanings and uses a choice of figurative language that is full of meaning, so that the two poems are very suitable to be studied using Pierce's Semiotics study. From the results of the research that has been done, three elements of Pierce's Semiotics are found in the two poems. The three elements are icons, indexes, and symbols. Elements of Pierce's Semiotics in the poem Secret of Love, the most dominant is the icon, while the index and symbol are one. In Resonance poetry both find two analyzes in icon, index, and Pierce's semiotics, poetry, secret of love, Indonesian resonanceCiteIdawati, I., Frandika, E., & Fahrudin, S. 2021. SEMIOTIKA PIERCE DALAM RAHASIA CINTA DAN RESONANSI INDONESIA KARYA AHMADUN YOSI HERFANDA. JURNAL PESONA, 72, 72–80. SeniorityReaders' DisciplineBusiness, Management and Accounting 133% KumpulanPuisi : 10 November, Selamat Pagi Indonesia Karya: Sapardi Djoko Damono, Monginsidi karya Subagio Sastrowardoyo, Sersan Nurcholis karya Subagio Sastrowardoyo, Nyayian Kemerdekaan Karya: Ahmadun Yosi Herfanda, Sajak Bagi Negaraku karya Kriapur. 10 November. Karya Toto Sudarto Bachtiar.
- Gus Dur pernah mengatakan bahwa sastra Islam merupakan bagian yang tidak bisa dilepaskan dari peradaban Islam. Keberadaan sastra Islam, catat Gus Dur, dapat dilihat dari dua sisi legalitas formal dan pengalaman religiusitas. Faktor legalitas formal membentuk sastra Islam dengan sandaran Alquran dan Hadits. Sementara itu, sisi religiusitas merupakan sumber-sumber sosial yang menggambarkan pengalaman keberagaman. Pada 13 Desember 1963, definisi mengenai kesusastraan Islam coba dibakukan oleh Djamaludin Malik serta budayawan Islam lainnya yang tergabung dalam Lembaga Seniman Budayawan Muslimin. Lewat "Manifes Kebudayaan dan Kesenian Islam," mereka menegaskan bahwa kesusastraan Islam ialah tafsir dari rasa, karsa, cipta, dan karya manusia muslim untuk mengabdi pada Allah dan kehidupan umat. Seni Islam, jelas mereka, terlahir karena Allah untuk keberlangsungan umat yang bertolak dari ajaran wahyu ilahi dan fitrah insani. Sastra Islam sendiri punya riwayat panjang di Indonesia. Kemunculannya dimulai sejak abad 12 bertepatan dengan lahirnya kerajaan Islam macam Samudra Pasai dan Malaka. Saat itu, sastra Islam termanifestasi lewat saduran dan terjemahan karya-karya epos Arab Persia seperti Hikayat Iskandar Zulkarnain, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Muhammad Ali Hanafiya, sampai puisi-puisi Ma’arri, Umar Khayyam, dan juga Rumi. Dari situ, sastra Islam kemudian berkembang mengikuti roda zaman. Dipakai untuk tujuan dakwah, penyebaran agama Islam, hingga medium Herfanda Si Petualang Sastra Islam di Indonesia dengan dinamikanya yang kompleks itu turut melahirkan salah satu anak didiknya bernama Ahmadun Yosi Herfanda, yang merupakan penyair, cerpenis, dan esais populer di eranya. Herfanda lahir di Kendal pada 17 Januari 1958. Ia menghabiskan masa pendidikan dasarnya di Kendal sebelum mengambil kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FKSS IKIP Negeri Yogyakarta 1979. Ketertarikan terhadap dunia tulis-menulis sudah nampak sejak remaja tatkala ia didapuk menjadi pimpinan Teater 4 Mei dan menggarap beberapa naskah pementasan seperti “Sinang-Siwok,” “Borok-Borok,” hingga “Kaisar Kampret.” Kesukaan itu berlanjut saat ia duduk di bangku kuliah. Di samping aktif sebagai anggota Pelajar Islam Indonesia PII dan Himpunan Mahasiswa Islam HMI, Herfanda juga mengomandoi keredaksian buletin Warastra IKIP Yogya maupun buletin Intra HMI. Usai lulus, Herfanda kian menyeriusi dunia tulis-menulis yang dibuktikannya dengan bergabung bersama Kedaulatan Rakyat Yogyakarta 1984-1989, Yogya Post 1989-1991, Sarinah, sampai Republika 1993-2010. Di masa-masa inilah Herfanda mulai membikin puisi, esai, dan cerita juga Haidar Bagir Tasawuf Akal, Toleransi, dan Pembelaan Terhadap Syiah Dawam Rahardjo, Sang Pemikir Ekonomi Islam Beberapa karya yang ia ciptakan selama masa itu antara lain Pagar-Pagar puisi, 1980, Ladang Hijau 1980, Sang Matahari puisi, 1984, Sajak Penari puisi, 1991, Fragmen-Fragmen Kekalahan puisi, 1996, Sembahyang Rumputan puisi, 1996, sampai Sebelum Tertawa Dilarang cerpen, 1997. Selain itu, karya-karya Herfanda juga rutin mengisi media-media lokal macam Horison, Ulumul Qur’an, Kompas, Media Indonesia, dan Republika. Sepak terjang Herfanda melalangbuana juga sampai luar Indonesia. Karya-karyanya menjadi buruan para penerbit mancanegara seperti yang terjadi pada antologi puisi bikinannya berjudul Secreets Need Words yang dipublikasikan Ohio University pada 2001. Atau Waves of Wonder yang dicetak oleh The International Library of Poetry 2002 hingga “Sajak-Sajak Bulan Ini Radio Suara Jerman” yang dibedah media Jerman, Deutsche Welle. Capaian-capaian itu dibarengi pula dengan penghargaan demi penghargaan yang ditujukan untuknya. Misalnya, kumpulan puisi berjudul Sembahyang Rumputan ditetapkan jadi pemenang pertama Lomba Cipta Puisi Iqra tingkat nasional oleh Yayasan Iqra pada 1992. Lalu, cerpennya, “Sebutir Kepala dan Seekor Kucing,” meraih salah satu hadiah Lomba Cipta Cerpen Kincir Emas Radio Nederland Wereldomroep dan dibukukan dalam Paradoks Kilas Balik 1989. Herfanda pun juga tercatat pernah memperoleh Editor Choice Award dari The International Library of Poetry di tahun dan Relasi dengan Tuhan topan menyapu luas padang tubuhku bergoyang-goyang tapi tetap teguh dalam sembahyang akarku yang mengurat di bumi tak berhenti mengucap shalawat nabi Bait di atas merupakan petikan puisi Herfanda berjudul “Sembahyang Rumputan” yang ditulisnya pada 1992. Lewat puisi tersebut, Herfanda ingin menekankan bagaimana hubungannya dengan sang pencipta berjalan. Ia berpesan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang tak meninggalkan ibadah, apapun kondisinya. Puisi-puisi Herfanda seringkali dipandang memberikan ketenangan spiritual bagi mereka yang membacanya. Ada semacam efek refleksi dan introspeksi tatkala mendalami syair-syair yang digemakannya. Anda bisa melihatnya lewat “Tahajud Sunyi” yang petikannya berbunyi begini kuketuk pintumu. biarkan jemari kasihku mengusap gerai rambutmu. kau pun membuka tabir jiwaku, hingga hatiku bisa leluasa mengeja alif ba ta cintamu kata-kata mesra pun bermekaran lewat pintu jiwa kupetik bagai bunga hadiah untuk kekasihku kelak di sorgaBaca juga Sastra Sufi Abdul Hadi Kerinduan Laron kepada Cahaya Pluralisme dan Cara Merangkul Perbedaan ala Jalaluddin Rakhmat Tak sekedar membahas tentang habluminallah hubungan manusia dengan Tuhan, puisi-puisi Herfanda juga kerap menyentil kondisi sosial sekitar hingga kematian. Untuk poin pertama, Herfanda menuangkannya dalam judul “Nyanyian Kota Peradaban.” meninggalkan tuhan dalam dirinya, orang-orang makin sibuk mencari tuhan, memanggil-manggil tuhan, di mana kau tuhan? di sini tuhan di sini jawab suara di hotel-hotel dan kelab malam. ketika orang-orang berdatangan, yang terhampar cuma kelamin-kelamin rindu bersebadan Sementara untuk kematian, Herfanda menafsirkan gagasannya dalam “Sajak Ziarah.” Baginya, kematian pada akhirnya juga akan menjadi rumah bagi manusia. sepanjang langkah aku berziarah sepanjang sujud kusebut maut sepanjang cinta kutabur bunga sepanjang orgasme kusebut kematiannya sepanjang hidup kau berziarah-ziarah sepanjang mati hidup kauziarahi siapa tak kenal ziarah takkan kenal makna rumah Sastrawan Korrie Layun Rampan berpendapat puisi-puisi Herfanda menyajikan sajak-sajak dengan bentuk ucap dan tema serta teknik bersajak yang bersahaja. Sajak-sajak Herfanda, tegas Korrie, tak hendak bergagah-gagah, baik pemakaian bahasa maupun soal tema serta amanatnya. Sajak-sajaknya menggarap hal-hal kecil dengan perenungan kecil yang mungkin dilupakan orang, baik peristiwa sosial, metafisis, maupun ketuhanan. “Menariknya sajak-sajak Herfanda adalah karena diangkat dari ragam pengalamannya. Sajak-sajaknya merupakan rekaman peristiwa yang direpresentasikan kembali dengan tenaga ekspresivitas seorang penyair,” tambahnya. Senada dengan Korrie, penyair Acep Iwan Saidi juga mengungkapkan kekagumannya akan puisi Herfanda. Secara keseluruhan, terang Acep yang mengamati “Sembahyang Rumputan,” sajak-sajak Herfanda adalah sajak yang memiliki “nilai religius penuh dan kental.” “Kata pertama, “sembahyang” dari kumpulan itu juga salah satu puisi di dalamnya telah menunjukkan hal itu secara gamblang. Sembahyang adalah perilaku peribadatan umat, penyerahan diri terhadap Tuhan Pencipta Semesta. Karena idiom-idiom yang digunakan dalam keseluruhan sajak adalah idiom-idiom dalam Islam, sembahyang di sini berarti sholat. Alhasil, religiusitas yang mau dibangunnya tidak lain adalah religiusitas yang Islami,” ujar Akan Sastra Islam Sebagai sosok yang berkecimpung dalam sastra Islam, Herfanda punya pandangannya sendiri mengenai perkembangan sastra Islam dewasa ini. Dalam benak Herfanda, sastra Islam punya ciri khas yang sederhana membawa semangat Islami, mencerahkan pembaca, hingga disampaikan dalam koridor nilai-nilai Islam. Dengan ciri-ciri tersebut, sastra Islam, jelas Herfanda, “akan tetap jadi pelaku pasar sastra mainstream yang kuat.” Meski begitu, Herfanda mengakui bahwa ketertarikan publik terhadap sastra Islam masih belum maksimal. Alasannya kritikus sastra Indonesia kurang adil dalam menilai sastra Islam serta kemampuan bercerita para penulis sastra Islam yang tidak sehebat generasi lama macam Ahmad Tohari hingga Kuntowijoyo. “Cuma memang kritikus sastra di Indonesia kurang adil dalam menilai genre sastra Islam. Ini juga menjadi problem serius, terutama bagi para kritikus. Sebab, memang mau tidak mau harus mengatakan bahwa pengamat sastra yang kuat atau dikenal publik itu rata-rata pengamat sastra yang kurang peduli terhadap sastra Islami,” ujarnya dalam wawancara bersama Republika pada 2015 juga Progresivitas Masdar Farid Mas'udi Membongkar Kejumudan Beragama Huzaemah T. Yanggo Ahli Perbandingan Mazhab yang Gilang Gemintang “Akibat ketiadaan kritikus sastra Islami itu, maka perhatian publik terhadap karya sastra yang dikatakan sebagai kelompok karya sastra Islami, menjadi berkurang. Kenyataan ini berbeda dengan sikap para kritikus ketika memperhatikan “sastra sekuler.” Mereka jadi begitu jeli dan penuh perhatian ketika mencermati atau berhadapan dengan karya-karya sastra di luar genre Islami itu.” Faktor pengganjal berkembangnya sastra Islam berikutnya, seperti yang diutarakan Herfanda, ialah ketidakmampuan para penulis untuk bercerita dengan baik. Menurut Herfanda, ketika para penulis ini tidak punya kecakapan bertutur yang baik, maka “karyanya hanya menjadi sebuah karya sastra yang terasa berat ketika dibaca.” “Ini bisa jadi karena para penulis itu terburu-buru atau karena mereka mencoba menulis novel yang serius dan padat. Namun, sayangnya, upaya ini membuat kemampuan mereka bercerita secara renyah menjadi hilang. Akibatnya, banyak di antara karya mereka yang ketika dibaca terasa berat karena terlalu padat informasi dan fakta sejarah,” tegasnya. Meski demikian, Herfanda masih optimistis sastra Islam di Indonesia akan “membesar di masa depan” mengingat banyak penulis dan penerbit baru yang bermunculan dalam beberapa tahun belakangan. “Begitu juga dengan jumlah generasi penerus penulis karya Islami yang tetap tumbuh serta terus berkreasi. Dengan demikan sebenarnya munculnya berbagai karya sastra Islami yang bermutu dan laris di pasaran sebenarnya hanya tinggal tunggu waktu saja. Salah satu buktinya ya tecermin pada semakin besarnya ajang pameran buku-buku Islami Islamic Book Fair itu. Di ajang itu, jelaslah bahwa sastra Islam sudah menjadi sebuah kekuatan tersendiri,” pungkasnya.====================Sepanjang Ramadan hingga lebaran, redaksi menyuguhkan artikel-artikel yang mengetengahkan pemikiran para cendekiawan dan pembaharu Muslim zaman Orde Baru dari berbagai spektrum ideologi. Kami percaya bahwa gagasan mereka bukan hanya mewarnai wacana keislaman, tapi juga memberi kontribusi penting bagi peradaban Islam Indonesia. Artikel-artikel tersebut ditayangkan dalam rubrik "Al-Ilmu Nuurun" atau "ilmu adalah cahaya". - Humaniora Penulis M FaisalEditor Maulida Sri Handayani
Penelitianini mengkaji tentang apa pesan dakwah yang terdapat pada puisi "Sembahyang Rumputan" karya Ahmadun Yosi Herfanda. Masalah penelitian ini yaitu : Apa pesan dakwah pada puisi karya Ahmadun Yosi Herfanda yang berjudul "Sembahyang Rumputan". Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotika Charles Sanders Peirce.
Puisi Nyanyian Kebangkitan Karya Ahmadun Yosi Herfanda Nyanyian Kebangkitan Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan Di antara pahit-manisnya isi dunia Akankah kau biarkan aku duduk berduka Memandang saudaraku, bunda pertiwiku Dipasung orang asing itu? Mulutnya yang kelu Tak mampu lagi menyebut namamu Berabad-abad aku terlelap Bagai laut kehilangan ombak Atau burung-burung yang semula Bebas di hutannya Digiring ke sangkar-sangkar Yang terkunci pintu-pintunya Tak lagi bebas mengucapkan kicaunya Berikan suaramu, kemerdekaan Darah dan degup jantungmu Hanya kau yang kupilih Di antara pahit-manisnya isi dunia Orang asing itu berabad-abad Memujamu di negerinya Sementara di negeriku Ia berikan belenggu-belenggu Maka bangkitlah Sutomo Bangkitlah Wahidin Sudirohusodo Bangkitlah Ki Hajar Dewantoro Bangkitlah semua dada yang terluka “Bergenggam tanganlah dengan saudaramu Eratkan genggaman itu atas namaku Kekuatanku akan memancar dari genggaman itu.” Suaramu sayup di udara Membangunkanku Dari mimpi siang yang celaka Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan Di antara pahit-manisnya isi dunia Berikan degup jantungmu Otot-otot dan derap langkahmu Biar kuterjang pintu-pintu terkunci itu Atau mendobraknya atas namamu Terlalu pengap udara yang tak bertiup Dari rahimmu, kemerdekaan Jantungku hampir tumpas Karena racunnya Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan Di antara pahit-manisnya isi dunia! Matahari yang kita tunggu Akankah bersinar juga Di langit kita? Mei, 1985Sumber Boemipoetra Juli-Agustus, 2008CatatanPuisi ini kadang beredar dengan judul Nyanyian Nyanyian KebangkitanKarya Ahmadun Yosi HerfandaBiodata Ahmadun Yosi HerfandaAhmadun Yosi Herfanda kadang ditulis Ahmadun Y. Herfanda atau Ahmadun YH adalah seorang penulis puisi, cerpen, esai, sekaligus berprofesi sebagai jurnalis dan editor berkebangsaan Indonesia yang lahir pada tanggal 17 Januari pernah dimuat di berbagai media-media massa, semisal Horison, Kompas, Media Indonesia, Republika, Bahana, dan Ulumul Qur'an.
A Unsur Intrinsik pada puisi diatas, diantaranya terdapat: 1. Diksi Dalam puisi karya Ahmadun Yosi Herfanda, diksi atau pilihan kata dari setiap bait puisi yang digunakan mudah dipahami maknanya, misalnya kata "Aku rerumputan". Kata ini memiliki arti bahwa rerumputan dapat diartikan sebagai manusia. 2. Majas
AhmadunYosi Herfanda dikelompokkan sebagai Sastrawan Angkatan 1980 - 1990 an. Sastrawan ini lahir di Kaliwungu, Kendal, 17 Januari 1958, Provinsi Jawa Tengah. Riwayat pendidikan yang berhasil dicatat adalah sebagai alumnus FPBS IKIP Yogyakarta, S-1 pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS IKIP Yogyakarta (1986) d
BukuAntologi Puisi Religi ZIARAH SUNYI berisi puisi-puisi karya 30 Penyair Indonesia. Mereka adalah Ahmadun Yosi Herfanda, Akhmad Sekhu, Ayu Cipta, Bambang Kariyawan, Bambang Widiatmoko, Budhi Ku
uY8wKYe.